Halaman

Senin, 13 September 2021

Praktek Cocahing Dengan Rekan Sejawat Komunitas Praktisi Sekolah

Pernah mendengar tentang coaching? Mungkin sebagian kita termasuk saya kata " coaching " asing di dengar apalagi pada dunia pendidikan. Kita sepertinya akrab mendengar kata " coach " pada bidang tertentu, yaitu bidang olah raga. Coach Angelo Alessio misalnya; pelatih Klub Persija tahun 2021 ini.

Konsep Coaching sudah saya jelaskan pada artikel sebelumnya di blog ini. Silahkan (BACA Koneksi Antar materi). Akan terlihat perbedaan antara coaching, konseling dan mentoring dalam hal pelaksanaan, tujuan juga hubungan.

Pada kesempatan kali ini, saya mencoba menyuguhkan video praktek coaching yang dilakukan bersama rekan sejawat pada komunitas praktisi di sekolah; SMP Negeri 3 Terusan Nunyai.

Jumat, 10 September 2021

Merancang Pembelajaran Era PTMT

Kerja Kelompok terbatas 
Merancang pembelajaran lalu menerapkannya di kelas  ketika Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) ini tidak semudah yang saya bayangkan. Kenapa? karena alasannya adalah durasi waktu kegiatan belajar yang cukup singkat. Bayangkan saja 1 JP hanya berdurasi 25 menit yang biasanya 40 menit. Sebagai contoh: saya mengajar IPA dengan beban sebanyak 5 JP tiap kelas yang saya ampu. Setiap pekan ada dua waktu berbeda untuk mengajar di kelas yang sama dengan durasi 3 JP dan 2 JP.

Saya mencoba mengkalkulasikan estimasi waktu di kelas tersebut; bila saya mengajar 3 jam, maka jumlah jam mengajar di kelas tersebut adalah 3 x 25 menit = 75 menit atau 1 jam 15 menit; itu normalnya. Pada saat eksekusi, maka kemungkin efektifitas waktu inti yang digunakan sekitar 60 menit; kenapa? 15 menit biasanya terpakai untuk aktivitas pembukaan, motivasi, do'a dan atau hiburan belajar. Kemudian bila durasi waktu mengajar saya 2 JP; artinya estimasi waktu saya 2 x 25 menit = 50 menit; normalnya. Kemungkinan saat eksekusi di kelas hanya 35 menit. Kenapa? alasannya sama seperti di atas.

Rabu, 08 September 2021

Refleksi Terbimbing Modul 3.1

 Education is the art of making man ethical.

Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~


1) Bagaimana/sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Jawaban.

Kalau ditanya sejauhmana pemahaman, ya Alhamdulillah paham, walaupun mungkin belum seutuhnya. Secara konsep bisa membedakan antara dilema etika dan bujukan moral. Pun kalau diberi kasus dalam kehidupan, insya Allah bisa dibedakan antara pertentangan yang di-tentang-kan. 

Menurut definisinya dilema etika adalah situasi yang terjadi pada seseorang di mana ia harus memilih dua pilihan secara moral adalah benar tetapi bertentangan. Dilema etika lebih sederhananya adalah pertentangan benar lawan benar. Sedangkan bujukan moral adalah sebuah situasi seseorang untuk membuat keputusan pada keadaan benar atau salah.

Saya ataupun kita pasti sedikit banyak mengalami situasi tersebut, baik secara pribadi ataupun saat berada di institusi kita sendiri. Ada yang harus coba kita pahami tentang hal yang mendasari situasi dilema etika tersebut yaitu tentang nilai kebaikan yang saling bertentangan. Nilai-nilai tersebut seperti: kebebasan, keadilan, cinta dan sayang, penghargaan, toleransi dan juga tanggung jawab.  Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini: 

    1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
    2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
    3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
    4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) 

Selasa, 07 September 2021

Ruang Kolaborasi Modul 3.1

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Dilema Etika

Membuat sebuah keputusan adalah hal yang sering kita hadapi. Bukan saja dalam lingkup pribadi akan tetapi dalam lingkup skala umum pelaksanaanya. Kita sebagai guru sering dihadapkan untuk bisa mengambil keputusan dalam berbagai hal, bukan saja saat kegiatan pembelajaran di kelas tetapi juga pada lingkup kebijakan sekolah. Tidak mudah untuk mengambil keputusan, butuh waktu dan perlu menganalisis masalah yang dihadapi, sehingga keputusan yang diambil adalah tepat dan baik.

Sesuatu yang mungkin harus kita coba pahami adalah sulitnya mengambil keputusan jika kasus atau kondisinya dalam keadaan yang DILEMA dalam diri. Dihadapkan dengan dua kasus yang bernilai benar semuanya, baik secara prinsip maupun paradigma. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai DILEMA ETIKA (Kondisi benar melawan benar).

Kamis, 02 September 2021

Kegiatan Aksi Nyata Modul 2.2

Pembelajaran KSE Berdiferensiasi
Daring - Sinkronus

Kembali saya CGP Angkatan 2 Kabupaten Lampung Tengah berasal dari SMP Negeri 3 Terusan Nunyai menghadirkan sebuah kegiatan Aksi Nyata dari program Pendidikan Calon Guru Penggerak. Pada kesempatan ini, Aksi Nyata yang saya lakukan adalah pada modul 2.2 yaitu tentang Penerapan rancangan pembelajaran KSE (Keterampilan Sosial dan Emosional) Berdiferensiasi di kelas. Pelaksanaan Kegiatan Aksi Nyata yang saya lakukan pada tanggal 19 Agustus 2021 di kelas 94, 95 dan 96 dengan pertemuan virtual menggunakan webmeet (gmeet).

Untuk RPP KSE Berdiferensiasi pada kegiatan ini, topik yang saya ambil adalah Sistem Organ Reproduksi dengan subtopik Gangguan dan penyakit serta Upaya pencegahan pada sistem reproduksi manusia.

Kegiatan pembelajaran dalam RPP KSE diferensiasi daring sinkronus yang saya buat selain memperhatikan pemetaan kebutuhan peserta didik; seperti memperhatikan dari sisi kesiapan belajar (readiness), minat belajar siswa, profil belajar (gaya belajar) siswa. RPP ini juga memenuhi strategi diferensiasi dalam kegiatan pembelajaran; apakah strategi diferensiasi proses, konten ataupun strategi diferensiasi produk. RPP dalam kegiatan pembelajaran pada Aksi Nyata ini juga menerapkan model pembelajaran keterampilan sosial dan emosional (KSE) berbasis kesadaran penuh (mindfullness). Walaupun tidak secara menyeluruh setidaknya ada 3 dari 5 kompetensi sosial emosional bisa dipenuhi atau didapatkan oleh peserta didik. Diantara kompetensi keterampilan sosial emosional yang dimunculkan dalam pembelajaran kali ini yaitu (1) Kompetensi kesadaran diri (2) Kompetensi pengendalian diri (3) Kompetensi Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab.